Sabtu, 23 Januari 2016

Nasihat Buya HAMKA kepada Angkatan Muda Islam

Nasihat Buya HAMKA kepada Angkatan Muda Islam
"Angkatan Muda saya serukan, seruan yang saya sendiri pun berjanji hendak melaksanakannya pula, sebelum kamu, sekadar tenaga yang ada padaku.
Kalian adalah harapan Islam di zaman depan. Sebab itu pelajarilah Islam. Pelajarilah dasar aqidahnya sehingga mantap, lalu kuatkan dengan ibadah, sampai menjadi darah daging.
Benamkan dirimu ke dalamnya sampai ideologi itulah kekayaanmu. Hingga kamu ridha melarat, ridha dikucilkan bahkan ridha mempunyai pendirian sendiri di dalam menilai segala soal, walaupun orang kiri-kananmu tidak berani lagi menyatakan pendirian itu.
Dengan tegaknya aqidah, dikuatkan dengan ibadah, kian lama kian leburlah diri ke dalam cita-cita. Sehingga kian tumbuhlah dalam jiwamu kepercayaan, kita manusia ini hanya alat Tuhan belaka, buat menegakkan apa yang diperintahkan-Nya.
Kalau orang komunis seperti Sudisman berdiri tegak, dengan muka tenang menunggu hukuman mati, kalau Nyono masih sempat bersyair seketika mendengarkan vonis, padahal mereka hendak menghancurkan agamamu, mengapa kamu yang mempertahankan ajaran Allah, menjaga agama pusaka akan ragu menghadapi segala kemungkinan di dalam keyakinan?
Sebabnya ialah karena belum banyak yang membenamkan dirinya ke dalam cita-citanya sebagaimana cita-cita orang komunis itu.
Islam kita terima sebagai agama, dan kita marah kalau dikatakan tidak Islam. tetapi Islam itu sendiri belum meresap ke dalam jiwa. Kita belum merasakan lezatnya iman, kita belum merasakan nikmatnya ideologi.
Yang utama dalam menegakkan ideologi bukanlah mesti bergelar alim, bukanlah ahli fiqh atau titel kesarjanaan, melainkan karakter (Quwwatul-Khulqi). Ideologi menimbulkan iradah, cita-cita menuju maksud yang mulia. Ideologi menimbulkan harga diri yang jauh lebih mahal dari harta dan tahta. Ideologi menimbulkan rasa khidmat dan kewajiban. Sebab itu seseorang yang memiliki rasa tanggung jawab lebih dahulu menunaikan kewajiibannya daripada menuntut hak.
Binalah diri ini terlebih dahulu dengan memperdalam aqidah dan ibadah, perteguh hubungan dengan Tuhan. dengan pertalian yang teguh dengan Tuhan, hadapilah tugasmu dalam hidup.
Maka apapun yang terjadi, kalian akan tetap merasa bahagia. Sebab di dalam jiwamu ada kekayaan (ideologi)".

KATA BIJAK UNTUK PARA IBU

KATA BIJAK UNTUK PARA IBU


Jika anak dibesarkan dalam kecaman, ia akan belajar menyalahkan
Jika anak dibesarkan dalam permusuhan, ia akan belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dalam ketakutan, ia akan menjadi penakut di masa depan
Jika anak dibesarkan dalam belas kasihan, ia akan belajar menyesali dirinya
Jika anak dibesarkan dalam olok-olokan, ia akan menjadi pemalu
Jika anak dibesarkan dalam kecemburuan, ia akan belajar iri hati
Jika anak dibesarkan dalam aib, ia akan belajar merasa bersalah

KECERDASAN SAYYIDINA ALI RA

KECERDASAN SAYYIDINA ALI RA 
RasulAllah SAW seringkali memuji sahabatnya atas hal yang berbeda-beda. Abu bakar RA misalnya, dipuji beliau atas keimanan yang kuat mengakar di jiwanya. Umar RA dipujinya atas kemampuannya menegakkan yang hak tanpa takut dicela. Utsman RA dipujinya atas sifat malunya yang bahkan membuat malaikatpun menjadi malu padanya, dan Ali bin Abi Thalib dipujinya atas kecerdasan, ilmu dan pengetahuan yang menjadikannya gerbang ilmu jika diibaratkan Nabi Muhammad adalah kotanya. Kawan, akan kuceritakan padamu sekelumit kisah, setetes dari lautan ilmu Sahabat nabi kita ini.. Seorang wanita di zaman kekhalifahan Abu bakar RA melahirkan padahal dia baru menikah 6 bulan sebelumnya. Dan hal tersebut menimbulkan fitnah dan pergunjingan di masyarakat. Merekapun menuduhnya berzina, dan menuntut pemerintah untuk merajam perempuan tersebut. Maka sebuah sidang diadakan untuk memutuskan apakah anak tersebut adalah hasil zina sehingga perempuan tersebut harus dihukum rajam ataukah dia adalah anak yang sah. Ali RA yang merupakan hakim pada masa tersebut pun didatangkan untuk membuat sebuah keputusan. “Bayi itu adalah anak yang sah! Nasab dan waris diikutkan kepada ayahnya“ “Atas dasar apa keputusan itu kau buat wahai Ali?“ tanya sang khalifah “Atas dasar Al-Quran firman Allah SWT, cobalah baca Quran surat Al-Ahqaf ayat 15 Allah SWT berfirman (وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا) (..hamil dan menyusui adalah 30 bulan.. ) Sementara dalam ayat yang lain Allah berfirman : (وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْ) (..dan wanita menyapih anak yang disusuinya setelah berusia 2 tahun..) Dua tahun adalah 24 bulan. Maka jika hamil dan menyusui adalah 30 bulan dan menyusui adalah 24 bulan, bukankah berarti kehamilan itu adalah 6 bulan? Maka, hamil 6 bulan adalah mungkin dengan penyaksian Al-Quran. Dan khalifahpun memutuskan seperti yang telah disampaikan oleh Sayyidina Ali RA. Kisah lain tentang kecerdasan beliau Di masa kekhalifahan Sayyidina Umar RA, dua orang perempuan melahirkan di waktu yang hampir bersamaan di rumah seorang bidan. Seseorang diantara mereka melahirkan bayi laki-laki dan seorang lagi melahirkan bayi perempuan. Namun sang bidan yang meletakkan kedua bayi itu berjejeran begitu saja tidak ingat betul siapa ibu bayi laki-laki dan siapa ibu untuk bayi yang perempuan. Dan masalah menjadi pelik tatkala kedua ibu tersebut mengakui dan memperebutkan bayi laki-laki sebagai miliknya. Masalah tersebut sampai di meja hijau kekhalifan Umar RA, dan beliaupun segera memanggil Sayyidina Ali RA untuk memberikan keputusan yang benar. “Harap masing-masing dari kedua ibu tersebut mengeluarkan air susunya dan dimasukkan di gelas ini“ Kata beliau seraya menyerahkan 2 buah gelas kepada dua orang tersebut. Setelah dua gelas tersebut berisi air susu dari masing-masing ibu baru itu dan diberi tanda agar tidak tertukar, beliaupun kemudian menimbang air susu tersebut dalam sebuah timbangan. Dan ternyata sesuai perkiraan beliau satu gelas susu itu lebih berat dari yang lainnya. Beliau kemudian memutuskan bahwa pemilik susu yang berat adalah ibu dari bayi yang laki-laki, sementara ibu dengan air susu yang lebih ringan adalah ibu dari bayi yang perempuan. Tatkala ditanyakan dengan dalilnya. Beliaupun kemudian membacakan firman ALLAH SWT, An-Nisa ayat 11 : (لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ ٱلْأُنثَيَيْنِ) (..bagi laki-laki adalah dua kali jatah perempuan..) Kisah yang ini terjadi di masa kekhalifahan beliau sendiri di tengah perselisihan dan perpecahan umat yang mulai berlangsung. Dan siang itu disaat khutbah jumat dengan beliau bertugas sebagai khatib, seorang munafik mengangkat tangan mengajukan tiga buah pertanyaan. Diawali dengan ucapan pedasnya : “Wahai khalifah, Nabi Muhammad mengatakan bahwa beliau adalah kota ilmu dan engkau adalah pintunya, maka jika engkau benar-benar pintu dari kota ilmu, tentulah semua pertanyaanku dapat engkau jawab dengan benar” “Silahkan ajukan pertanyaanmu” kata Sayyidina Ali RA “Pertanyaan pertama, berapa jarak antara timur dan barat bumi ini?” Tanpa diam lama, Sayyidina Ali menjawab “Selama perjalanan matahari dari pagi hingga sore hari” Semua jamaah Jum'at berdecak kagum atas ketepatan jawabannya. Ya, bukankah matahari memang terbit di timur di waktu pagi dan tenggelam di barat saat sore hari? “Pertanyaan kedua, apa yang sedang Allah SWT kerjakan saat ini?” Sayyidina Ali RA tidak menjawab pertanyaan tersebut. Beliau malah turun dari mimbar kemudian naik kembali dan berkata “Yang sedang Allah lakukan saat ini adalah menurunkan saya dari mimbar, menaikkan saya kembali, kemudian menjawab pertanyaanmu ini“ Dengan jawaban beliau yang tak terbantahkan itu, diapun menjadi terlihat kesal dan kemudian berkata “Pertanyaan terakhir, kenapa di zaman khalifah Abu bakar dan Umar RA negeri ini aman dan damai, tidak ada perselisihan dan perpecahan, sementara di masa engkau memerintah ini negeri kita dipenuhi dengan huru-hara, keributan dan perselisihan antar sesama umat islam?” Sayyidina Ali RA tersenyum mendapati pertanyaan yang bukan ilmu pengetahuan tapi perdebatan yang memojokkan beliau ini. Kemudian beliau berkata “Ya, tentu saja di zaman khalifah Abu bakar dan Umar memerintah negeri kita damai, aman dan sejahtera sebab pemimpinnya adalah mereka dan rakyatnya adalah orang-orang seperti saya. Sementara di masa sekarang ini pemimpinnya adalah saya dan rakyatnya adalah orang-orang sepertimu“ Orang tersebut terdiam..